![]() |
| Kehidupan selalu dilengkapi oleh warna-warni. Foto : Petrus Kanisius (Pit) |
Kehidupan merupakan anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada setiap insan. Manusia dilahirkan, menghirup udara, tumbuh dan berkembang, mengalami hal-hal normal dalam hidup, merasakan bahagia, sedih, sakit, sehat, adalah kumpulan betapa hidup ini sebuah dinamika yang normal. Dan, saya merasakan hal-hal yang luar biasa demikian. Tuhan telah menganugerahkan kepada saya kesempatan untuk lahir kedunia ini dan merasakan dinamika itu. Saya berkenan melewati masa-masa indah waktu kecil dan kesedihan dalam tekanan mental yang luar biasa. Salah satu sisi kehidupan, saya merasa bersyukur atas apa yang saya miliki namun disisi lain, hidup terkadang bagi saya adalah neraka dan saya menyalahkan Tuhan kenapa menanggung cacat fisik seperti ini.
Saya yang sejak lahir diciptakan
dengan keadaan fisik yang tidak sempurna, tangan dan kaki kanan saya sedikit
lumpuh dan tidak normal seperti layaknya orang lain yang dapat menggunakan
semuanya dengan baik. Ketidaksempurnaan fisik saya banyak berpengaruh pada
aktivitas saya sehari-hari. Jujur saya katakan keadaan fisik saya seperti ini
tidak saya kehendaki, didalam hati dan perasaan, saya merasa marah, sangat
tidak terima atas kenyataan yang ada, kehidupan saya berada pada posisi yang
serba salah. Kadang kala saya depresi atas keberadaan diri ini, pergaulan saya
tidak seluwes orang-orang lain. Sahabat-sahabat saya bisa bermain dengan
leluasa, berlari, berenang, memanjat, belajar dengan mudah secara fisik
sementara saya tidak bisa dan dibatasi oleh keadaan cacat fisik tadi. Sungguh
ini sebuah neraka nyata dalam hidup.
Disetiap pergaulan, pikiran
negatif saya selalu muncul, dia semacam tembok pembatas yang sangat tinggi dan
sulit untuk dilewati. Diri saya berada dalam gejolak yang tidak bahagia,
menerima kenyataan dalam lingkungan nasib tidak beruntung, pasrah dan mudah
menyerah, bahkan sempat mengatakan Tuhan tidak adil terhadap saya. Setiap kali
bergaul dengan teman-teman seusia saya dalam keseharian, selalu saja saya
merasa minder, diri saya adalah yang terburuk, sangat berbeda dan tidak dapat
berbuat seperti mereka.
Citra diri saya waktu itu memang
demikian dan saya belum bisa menerima kenyataan ini secara normal. Saya merasa
diri saya tidak dapat berbuat dan mengerjakan sesuatu seperti sahabat-sahabat
saya yang lain. Mereka memiliki kesempurnaan fisik dan bisa melakukan apa saja
yang mereka inginkan sementara saya tidak. Keadaan seperti inilah menjadi
bumerang yang membuat saya merasa terkucilkan, rendah diri, tidak sempurna dan
sangat berbeda dibandingkan dengan orang lain. Saya menutup diri dan minder, iri
terhadap teman-teman saya. Bahkan perasan mental itu masih ada dan selalu
menyerang saya sampai saya menginjak SLTP.
Sejak masuk SLTP, saya pindah
dari desa kecil dimana kedua orang tua saya tinggal, saya meneruskan pendidikan
kekota kabupaten. Pada awal masa ini saya merasakan dunia yang jauh berbeda,
tekanan terasa sangat kuat, hidup sepertinya tidak semakin baik. Saya ibarat
berjalan sendiri, melakukan banyak aktivitas dan mengurus diri sendiri,
bulan-bulan awal terasa begitu berat dan saya semakin terpuruk kedalam tekanan
mental dan keminderan akut. Tuhan sepertinya memang tidak menggendong saya
dalam setiap keterbatasan, saya berjalan sendiri dalam penderitaan ini, suara
Tuhan tidak menggaung dalam benak saya dan itu saya biarkan saja. Masa itu
Tuhan saya pandang sebagai pencipta yang tidak menghendaki saya lahir. Itulah
cap-cap yang saya patri untuk membenarkan apa yang saya pikirkan karena
keterbatasan tadi.
Suara Kehidupan yang Memberi
Makna
Saya terbangun dari keterpurukan
mental terkait fisik saya, sebuah suara dari keheningan menyapa saya dan
berbisik dalam hati supaya bangkit dari keterbelakangan mental itu. Merasa
minder dan tidak sempurna bukan penyelesaian masalah, keterbatasan fisik
tidaklah sebuah halangan untuk terus berkembang dan maju. Beruntung saya
tinggal disebuah komunitas anak rantau yang sama-sama berjuang untuk
memperbaiki hidup dan intelektualitas. Saya tinggal di sebuah asrama yang
dikelola oleh misionaris Katolik dan hidup bersama dengan lebih dari seratus
siswa dari berbagai macam latar belakang. Semejak suara kehidupan itu
membisikan maknanya kedalam hidup saya, saya mulai menyadari bahwa hal-hal
negatif perusak diri adalah penyakit yang membuat saya tidak menjadi apa-apa,
saya terus berjuang, melakukan banyak hal dan selalu mampu mengandalkan diri
sendiri.
Sejujurnya kalau saya mau
"cengeng", saya tidak bisa mencuci pakaian lantaran tangan saya
sebelah kanan tergolong lumpuh, namun saya berusaha untuk melatih tangan
tersebut dan saya bisa melakukannya. Saya menulis dengan tangan kiri, mengetik
dengan satu tangan, memegang mouse komputer dengan tangan kiri, makan dengan
tangan kiri, membawa barang-barang dengan tangan kiri. Intensitas penggunaan
tangan kiri saya mungkin 90% dan hanya 10% aktivitas yang bisa dilakukan dengan
tangan kanan. Satu hal yang terus saya lakukan dengan tangan kanan adalah jika
saya berkenalan dengan orang atau bersalaman, saya akan berusaha menggunakan
tangan kanan saya. Saya berusaha untuk menjadi kesatria walaupun dengan
keterbatasan yang ada. Orang yang pertama kali salaman dengan saya pasti akan
terkejut takkala menemui kenyataan bahwa saya tidak bisa bersalaman dengan
normal. Tetapi itulah adanya dan saya tidak merasa itu halangan. Pada akhirnya
mereka menyadari kalau saya tidak senormal mereka, mereka maklum dan kita
bersahabat.
Saya menyadari bahwa keterbatasan
fisik dan cacat sejak kecil bukanlah halangan terbesar yang membatasi saya
untuk maju dan bergaul dengan mudah. Saya mengalami hal-hal buruk, bahagia dan
sedih, sakit dan sehat. Jatuh cinta dan merasa ditinggalkan. Kehidupan saya
normal ketika saya menerima keberadaan diri, saya mulai bisa berjalan dan
merasa bahwa Tuhan menyentuh saya lewat banyak hal termasuk keterbatasan fisik
tadi.
Saya menyadari apa yang dikatakan
orang-orang di sekitar saya yang terus mendorong dan memberikan semangat,
mereka membuka ruang dan tidak membatasi apapun dari saya. Akhirnya, saya
berani membuka diri dan hidup layaknya orang lain. Ini sebuah anugerah indah
bagi hidup saya.
Saya terus memperbaiki diri dan perlahan-lahan
membuang jauh pikiran negatif yang selama ini melekat dalam diri saya. Dan,
ternyata, semuanya terpusat pada pikiran. Alam semesta memberikan energinya
tergantung pada apa yang manusia pikirkan. Ketika saya berfikir negatif alam
semesta juga memberikan hal-hal negatif dan ketika saya menerima kehidupan
secara positif, alam semesta juga berpihak kepada saya. Ini sebuah rahasia
kehidupan dan saya bersyukur mengalami kedua hal itu.
Ketika saya merasa minder, saya
membatasi diri dari dunia luar, kehidupan berada dalam tekanan dan saya adalah
sosok yang "nggak banget". Saya merasa sekali ternyata berpikir
demikian hanyalah perasaan kita sendiri dan membuat kita semakin tidak berdaya.
Tidak berdaya yang saya maksudkan adalah bahwa apabila saya terus-terusan
menggulung diri dalam lingkaran negatif maka saya tidak akan maju.
Perasaan minder, takut, malu dan
malas merupakan suatu pikiran yang buruk atau prasangka buruk yang sebenarnya
diri kita sendiri membuat dalam artian berpikiran demikian negatifnya pada diri
sendiri. Padahal kita di dalam hidup masing-masing memiliki kekurangan dan
kelebihan, namun yang perlu untuk diperhatikan adalah bagaimana untuk menyikapi
hal tersebut secara positif.
Didalam hidup seringkali kita
tidak mengenal dan sengaja untuk tidak mau memahami sekaligus mempelajari makna
dari hidup itu. Bahkan tidak mengenakan adalah ada beberapa orang yang tidak
menerima nafas kehidupan yang diberikan-Nya. Tidak sedikit orang cenderung
tidak menerima pemberian yang maha kuasa dalam hal ini menyangkal diri dengan
tidak mau menerima keadaan dalam dirinya dengan tidak mengakui kekurangan yang
ada di dalam dirinya berupa keadaan fisik yang tidak sempurna seperti orang
yang lahir lainnya. Padahal suatu sumber kehidupan itu merupakan salah satu modal
utama untuk berusaha bagaimana kita seharusnya untuk dapat berjuang dan mampu
mengalahkan kekurangan yang ada dengan cara menggunakan akal dan pikiran kita.
Setiap orang yang lahir ke dunia
ini pada hakikatnya sama prosesnya, akan tetapi dalam setiap orang pasti ada
ada perbedaan baik fisik dan anugrah didalam kehidupan. Pada kenyataan banyak
orang yang tidak menerima pemberian dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Banyak orang
yang lahir kedunia tidak mau menerima kenyataan yang ada, bahkan tidak sedikit
yang mengambil jalan pintas karena tidak menerima arti kehidupan. Misalnya saja
bahkan orang yang sempurna fisiknya pun tidak berarti ia menerima sepenuhnya
makna dan arti kehidupan.
Kehidupan pada hakekatnya adalah
patut dan layak untuk disyukuri sebagai Anugrah yang tiada tara. Anugrah yang
tiada tara tersebut adalah tidak mungkin dapat kita balas terhadap Tuhan,
terkecuali dengan kita bagaimana untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain
didalam kehidupan kita. sebagai mahkluk yang dikatakan sempurna dari mahkluk-mahkluk
lain sudah selayaknya lah kita mengucap Syukur dengan memaknai hidup ini untuk
berkarya dengan menggunakan akal dan pikiran secara positif.
Banyak orang-orang hebat, cerdas,
dan terkenal karena salah satunya oleh kekurangan fisik dalam hal ini mereka
cacat, apapun wujudnya tetapi mereka miliki kemauan dan berusaha bagaimana
mengatasi kekurangan tersebut dengan berkarya. Berusaha dengan sekuat tenaga
memutarkan akal dan pikiran adalah salah satu wujud nyata untuk memaknai
kehidupan. Makna dan arti kehidupan pada hakikatnya memiliki fungsi dan tujuan
yang sama yaitu bagaimana kita, anda dan saya untuk dapat memaknai kehidupan
sebagai tujuan untuk dapat memperoleh, menciptakan, dan berbuat nyata dengan
berkarya sesuai dengan keinginan sesuai apa yang kita inginkan, kuncinya
tinggal bagaimana kita dapat berusaha dan terus menerus menghilangkan perasaan
minder atau tidak Percaya Diri yang ada dalam diri kita.
Setelah saya menyadari semuanya
itu saya berani mencoba untuk menyatu dengan teman-teman lain untuk dapat
bersosialisasi, bersahabat, dan akrab dengan orang disekitar saya. Pada
dasarnya orang-orang disekitar saya sudah mengetahui dan menerima keadaan saya.
Sebelumnya saya berpikir dan merasakan bahwa hidupku tidak berarti sama sekali
bagi orang tua dan orang lain. Motivasi dan semangat dari orang-orang disekitar
kehidupanku terlebih orang tua, membuat saya semakin kuat, tegar dan
termotivasi dengan keadaan saya untuk bagaimana berani membuka diri dan mencoba
menerima keadaan yang dimiliki sebagai salah satu anugrah didalam kehidupan
ini.
Kehidupan kita yang serba
berkekurangan seharusnya jangan dijadikan sebagai sebagai suatu hambatan untuk
terus berkembang, bergaul dan akrab dengan dengan sesama serta menjalin
persahabatan dengan siapapun tanpa terkecuali karena itu semua sebagai
pelajaran hidup. Disitu kita akan menemukan makna kehidupan yang sebenarnya.
Dari waktu kewaktu diri saya tidak lagi merasakan bahwa kekurangan yang kita
miliki sebagai penghambat akan tetapi menjadikannya sebagai salah satu acuan
bagi kita untuk maju seolah kita tidak merasa kurang satu apapun. Pada kurun
waktu hampir sepuluh tahun hidup saya penuh dengan perasaan yang khawatir dan
tidak menerima kenyataan lama kelamaan berbalik arah yakni dengan berpikiran
positif dan merasa terpacu semangat untuk dapat berkarya seperi orang lain.
Berusaha bangkit dari
keterpurukan merupakan salah satu langkah yang harus kita ambil karena
kehidupan kita hanya sekali. Kita, anda dan saya tentu ingin merasakan suatu
anugrah yang luar biasa dari kehidupan yang diberikan oleh-Nya. Saya merasakan
sekali bahwa keadaan fisik atau apapun yang menjadi halangan, jangan dijadikan
sebagai salah satu hambatan. Justru sekarang saya merasakan hidup lebih berarti
dengan keadaan seperti pada ini, keberanian dan kepercayaan diri dan berani
untuk berusaha seperti teman teman-teman lainnya adalah salah satu modal
keberhasilan bangkit dari keadaan. Ada salah satu pedoman yang menjadikan
semangat saya terpacu, yakni perkataan dari Bapak saya yang menyatakan:
"Keadaan fisik mu memang tidak sempurna seperti orang yang lainnya, akan
tetapi kamu diberikan akal dan pikiran yang sama oleh Tuhan gunakan itu sebagai
pelengkap kekurangan yang kamu miliki".
Sungguh sangat luar biasa
ungkapan dari kata-kata itu, dari pernyataan itu saya semakin percaya bahwa
kekuranan bukanlah sebagai salah kendala untuk berjuang dalam hidup, akan
tetapi sebagai modal kita semakin kuat dan dapat berbuat sesuatu dan berkarya
dalam sisa-sisa hidup kita. Saya merasa sangat berhutang budi terhadap orang
tua dan orang-orang disekitar ku khususnya teman-teman, karena mereka hidup
saya dapat merasa sama seperti mereka semua. Saya merasa didalam hidup ini
memang tidak ada yang tidak mungkin, seperti apa yang di katakan oleh Tuhan.
Akan tetapi itu tergantung pada diri kita masing-masing pula bagaimana untuk
melaksanakan itu semua.
Pengembangan diri kearah yang
lebih baik dan berusaha untuk membuka diri adalah kunci kita dan anda semua
untuk berkembang dan maju menuju masa depan. Hidup kita yang diberikan oleh
Tuhan hanya sekali saja, berbuatlah sesuatu yang baik terhadap semua, temukan
makna hidup didalam diri kita. Keterbatasan pada diri janganlah dijadikan
sebagai suatu alasan untuk tidak bertindak, akan tetapi jadikan keterbatasan
itu sebagai langkah untuk memacu semangat dan motivasi diri kearah positif.
Hidup dalam keadaan terbatasan memang suatu tidak mengenakan, akan tetapi kita
ditantang berani atau tidak untuk mengalahkan perasaan kita yang terkadang
cenderung menutup diri.
Didalam kehidupan sehari-hari
kita dan mahkluk ciptaan yang lainnya memang tidak lepas dari dukungan orang
lain, namun kita jangan terlalu bergantung. Bukankah didalam diri kita
masing-masing memiliki akal dan pikiran yang sebenarnya merupakan bahan dan
sumber kreasi kita untuk melangkah dan berjuang kearah yang kita mau dalam
artian dengan tindakan dan pikiran positif pula.
Pada akhirnya didalam memaknai
kehidupan ada salah satu kunci utama yang harus dilaksanakan yaitu adalah
bagaimana kita untuk terus menerus berpikir positif. Berpikir positif adalah
salah satu sumber utama bagi kita, anda dan saya untuk dapat serta mampu menakluk
rasa kekurangan-kekurangan yang kita miliki. Dengan berpikiran poitif maka kita
akan mampu membuat semuanya berjalan dengan baik apapun bentuknya. Sudah
selayaknya kita mensyukuri berbagai anugrah terindah dari Tuhan. Sampai saat
ini aku sangat mensyukuri arti hidup dan kasih, persahabatan dari sesama dan
berkarya. Kasih Berusaha dengan sekuat tenaga dibarengi oleh semangat tinggi
adalah salah satu tekad kuat untuk mencoba maju dari segala sesuatu yang ada
dalam kehidupan, pasti bisa dilakukan. Bukankah kekurangan itu adalah salah
satu modal besar bagi kita untuk dapat berkarya.
Tulisan ini pernah dimuat di : http://bruderfic.or.id/h-285/cacat-fisik-bukan-halangan-bagi-saya-untuk-hidup-normal.html
Lihat Video cerita harianku ku di: https://www.youtube.com/channel/UC6hamcu3ZHWvtdX04PrK2BQ
Penulis : Petrus Kanisius (Pit), Alumni Asrama WPK Ketapang, Kalbar tahun 1997-2002, Alumni Ilmu Komunikasi STPMD “APMD” Yogyakarta, Lulusan tahun 2008. Sekarang bekerja di Yayasan Palung (GPOCP); sebuah lembaga konservasi orangutan dan habitatnya. Aktif di isu-isu konservasi, menulis, suka menulis puisi, literasi dan aktif di koor paduan sura AMBA.

Comments
Post a Comment