CERPEN | PONGO RINDU RIMBA
YANG RAYA
Seperti terlihat secara kasat
mata, dari dulu sampai sekarang ini, rimba yang tak lagi raya, tidak lagi ramah
dan tidak menjadi satu kesatuan yang harmoni. Seharusnya, Pongo dan rimba tidak
terpisahkan dan satu rumah sekaligus sebagai asa penyambung napas kehidupan
bagi si Pongo ataupun pula makhluk lainnya.
Berayun-ayun di antara ranting
pohon atau pada batang liana, itu yang menjadi kesukaan si pongo yang tidak
lain adalah orangutan. Si pongo yang sangat suka menjelajahi hutan itu ternyata
memiliki peran mulia.Tidak hanya berayun, pongo juga sangat suka memakan pucuk
daun, kulit muda dan buah-buahan hutan.
Tidak hanya suka menjelajah
hutan, si pongo kini sudah semakin merindu rimbunnya hutan yang raya juga harmoni
saling menyapa bukan saling acuh kepada sesama ciptaan.
Konon, si pongo yang memiliki
hobi menjelajah hutan itu saban waktu dari ke hari sampai hari ini sudah
semakin rindu rimba raya.
Rindunya pongo pada rimba yang
raya bukan tanpa alasan. Nada-nada rimba yang menanti asa., asa kepada semua
makhluk untuk saling harmoni itu yang selalu ada sebagai harapan nyata kepada
nasib yang mendiami semesta ini.
Saat ini, nasib hidup pongo sudah
semakin sulit berkelana, mencari makan dan menabur benih.
Julukan sebagai petani hutan yang
melekat pada pongo pun kian rentan hilang menjelang rimba yang semakin sulit
untuk raya, tetapi bukan berarti tidak ada asa.
Suatu ketika, rombongan burung
riuh hilir mudik, mereka hendak bertemu dengan si pongo. Rombongan burung itu
ternyata ingin berdiskusi dengan pongo terkait nasib hidup mereka di rimba
raya.
Burung-burung yang hilir mudik
itu ternyata adalah burung enggang, mereka dari waktu ke waktu ternyata
bertanya-tanya tentang peran mereka selama ini. Resah dan gelisah tak menentu
mereka pun wajar sejatinya, karena burung-burung itu sama seperti pongo yang
menanti asa. Peran si Pongo dan burung-burung enggang itu tak kurang karena
sebagai petani hutan.
Si Petani hutan menyebarkan
benih-benih itu tak lain sebagai cikal bakal tunas baru belantara. Tunas bukan
sekedar tunas, tapi tunas itu adalah harapan akan segala makhluk. Dari
tunas-tunas baru itu ragam satwa dan tumbuhan bisa bernapas lega. Dari
tunas-tunas itu pula segala bernyawa boleh beroleh ketenangan bukan riuh yang
tanpa batas tanpa rasa peduli.
Celoteh enggang dan pongo seperti
menuai rindu yang harus disambut damai tanpa menuai haru biru.
Cerita dulu tentang rimba raya
yang harmoni kiranya tetap harus selalu ada, karena lestrarinya bumi, semesta
raya ini tergantung kita manusia sebagai sesama makhluk ciptaan Ilahi.
Keutuhan ciptaan menjadi akar
yang harus tertanam berdiri kokoh bukan tercerabut. Seperti asa pongo dan
enggang ini, inginkan rimba raya tetap selalu ada. Si Pongo tidak kurang
kiranya menyandang banyak julukan bukan saja sebagai petani hutan, tetapi juga sebagai
spesies payung. Tidak terbayang bila hutan rimba (rimba raya) menjadi hilang
tak berbekas. Tentu, nasib pongo dan segenap napas segala bernyawa lainnya akan
menjadi taruhan bahkan hilang tak berkas.
Bagaimana jadinya bila hutan
tanpa pongo (orangutan) atau sebaliknya? Tentu, tidak sedikit yang terpengaruh.
Hutan dan orangutan tanpa kita boleh dikata tidak apa-apa. Tetapi, mampukah
kita tanpa hutan dan orangutan?
Orangutan perlu hutan, hutan
perlu orangutan untuk terus menumbuhkan tunas-tunas baru yang tidak lain ialah
tajuk-tajuk pepohon yang disebut juga sebagai hutan.
Cerita dulu dan sekarang sudah
semakin jauh berbeda. Tentu ini tentang cerita pongo yang sejujurnya hidup
begitu tulus sebagai petani hutan hingga tajuk-tajuk itu masih boleh berdiri
kokoh walau tak sama seperti dulu yang pernah ada.
Raung pongah sumpah serapah kerap
kali saling beradu. Beradu tentang cerita yang tidak pernah usai tentang nasib
hidup si pongo dan satwa lainnya yang tak pernah berujung didera sengsara.
Sengsara di rumah yang juga
habitat hidup dari satwa lainnya, itu yang terjadi pada nasib pongo saat ini
dan ini menjadi bukti pongo perlu tangan-tangan tidak telihat untuk berjabat
erat bukan saling menghujat.
Pongo butuh ruang hidup berupa
hutan yang luas untuk menjelajah, bermain, berayun dan menyemai. Ruang hidup
yang luas sebagai tanda pongo masih aman nyaman berdiam.
Melihat, merasa dan menyana. Pongo tanpa ibu
sungguh kasihan. Hutan dan ibu satu satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Ujung pena dan senapan tidak
jarang menjadi ancaman nyata jiwa pongo, ujung pena dan senapan memberi
berhentinya napas itu bisa terampas tak berbekas.
Ujung pena pun bisa menggores
luka yang tidak terlihat namun terasa di depan mata. Raung suara menggema
merampas belantara. Tidak jarang pongo hilir mudik tanpa arah mencari atau
kehilangan arah.
Koar kelakar tangan-tangan tidak
terlihat seolah beradu nyali dan beradu domba. Tidak pernah salah, dogma yang
selalu sama berujar dan terucap. Koar kelakar itu pun berujung pada nasib pongo
dan manusia yang tinggal di sekitar hutan yang sama-sama berujung trusir di
rumah sendiri.
Rumah pongo yang dulu tidak
seperti yang ada sekarang ini. Pohon, ranting dan dahan yang kokoh semakin
sulit dijumpai.
Pakan makanan semakin sulit pongo
dapatkan di rimba raya yang tidak bertuan itu. Bagaimana tidak, rimba yang raya
semakin sulit dijumpai, semakin sulit pongo semai. Tajuk-tajuk sudah semakin
sulit bersaing dengan bangunan gedung, dengan tanaman sejenis tetapi bukan
hutan.
Pasrah menyerah para satwa, itu seolah-olah
tetapi itu menjadi tanda nyata yang tersaji dari mentari mulai memancar hingga
senja menyapa saban hari. Ruang hidup kita (masyarakat lokal) penjaga rimba
raya semakin sulit berdaya. Titah tak terbantahkan menjadi bumerang dan buah
simalakama.
Bukankah, Pongo dan hutan itu
penting? Nasib sebagian besar makhluk
hidup bergantung dan tergantung kepada hutan dan pongo.
Pongo perlu manusia untuk menjaga
asa, asa akan semua yang peduli bukan pongah serakah tanpa arah membabi buta,
bukan suara deru mesin, tetapi suara sapa yang menyambut harmoni semua secara
bersatu bersuara bersuara menyerukan kata peduli dengan aksi nyata.
Si petani hutan rindu ceria,
bahagia, menanam dan menuai panen pakan buah raya agar tak paaceklik yang
mencekik, jiwa yang meronta tanpa kata.
Kini pongo menanti asa, asa aka
nada tangan-tangan mulia yang bisa menuai damai dan harmoni agar boleh kiranya
peduli kepada nasib semesta sebagai ciptaan Ilahi agar boleh berlanjut sampai
nanti.
Nasib pongo pun kurang lebih sama
dengan anak cucu dari kita, ruang hidup menjadi prioritas, hutan yang harmoni
saling menyapa, saling menyatu menjadi satu.
Asa Pongo tidak lain rimba yang
raya, pakan yang melimpah dan jelajah yang luas, aman terkendali. Satu harap,
semoga impian akan rimbunnya hutan, belantara yang raya dengan tindakan nyata
serta kepedulian kita semua bisa mengobati dan menjadi penawar sakit penyakit
yang diderita pongo serta semua napas makhluk selama ini. Mengingat, semua
nafas memiliki hak yang sama untuk hidup yang harmoni di rimba yang raya.
Penulis : Petrus Kanisius-YP

Comments
Post a Comment