![]() |
| Kekuranganku Semangatku. Foto dok. Vemale |
Sejak aku masih kecil, aku
dianugrahi Tuhan dengan kekurangan fisikku. Aku terlahir secara kasat mata
memang tidak tampak bahwa aku memiliki kekurangan. Tetapi dengan kekurangan
fisikku itu menjadi semangat hidupku sesungguhnya.
Jujur jika boleh berujar,
kekurangan fisikku itu adalah tentang tangan kananku yang tidak senormal tangan
kiriku. Demikian juga dengan kaki kanananku yang tidak sehebat kaki kiriku.
Ceritaku ini sesungguhnya, sungguh-sungguh terjadi dan dengan ceritaku ini aku
tidak ingin manja atau hanya sekedar berkeluh kesah saja. Fisikku yang tidak
sempurna itu anugerah, itu hadiah.
Terkadang memang terasa sulit
dengan adanya keadaanku seperti ini, namun aku harus terus berjalan seirama
berjalannya waktu.
Puji Tuhan, Syukur kepada Allah,
Sang Pencipta dan orang-orang disekitarku memperlakukanku dengan adil. Terlebih
kedua orangtua dan saudara-saudaraku.
Dari kecil hingga dewasa aku
diajari untuk hidup mandiri, tidak terkecuali saat-saat masa sekolah aku
tinggal dan hidup mandiri di asarama milik bruder FIC. Tak kurang enam tahun
aku hidup berbaur dengan teman-teman seperjuangan dari pedalaman. Hingga aku
melanjutkan pendidikan yang lebih lanjut, aku merasa orang-orang disekitarku
memperlakukanku dengan baik adanya.
Kekurangan fisikku semangat
hidupku, kira-kira itu yang acap kali mereka utarakan kepadaku. Alasan lainnya
karena aku ingin selalu mencoba apa yang kawan-kawan normal lakukan. Terkadang,
teman-temanku bilang kekurangan fisikku adalah semangat hidupku yang juga
menjadi sama-sama penyemangat teman lainnya disekitarku. Mungkin keadaanku
seperti ini, aku sungguh-sungguh merasa diperlakukan dengan adil dan
dimanusiakan sesungguhnya. Mengingat tidak sedikit dari saudara/i kita yang
mungkin diperlakukan secara tidak adil di tempat lainnya.
Ku berharap, apapun keadaan fisik
kita yang kita miliki syukuri saja apa adanya. Karena, sesungguhnya kelemahanmu
sejatinya adalah kekuatanmu dalam menjalani sisa-sisa dalam menjalani kehidupan
ini.
Aku diajari oleh orangtuaku dan
orang-orang terdekatku untuk selalu bersyukur dengan adanya aku. Jika boleh
dikata aku melakukan semua aktivitas hari-hariku yang menggunakan tangan hanya
bisa menggunakan tangan kiriku. Mungkin, tangan kananku hanya bisa beraktivitas
kurang lebih 30 persen saja. Tetapi aku menjalani hidup ini dengan apa adanya
aku. Tangan dan kakiku lemah adalah karena sakit polio pada saat aku lahir,
ketika masa-masa kecilku dulu vaksin polio belum ada ketika itu.
Di dunia kerjaku (tempat aku
bekerja) pun aku merasa sangat beruntung dan bersyukur karena semua
memperlakukanku dengan baik adanya dan tidak membedakanku dengan yang
lain-lainnya. Semangat kebersamaan dan semangat hidup untuk menjalani kehidupan
itu penguat sekaligus penutup kekuranganku. Memang, kekurangan tidak hanya dari
fisik tetapi juga jiwaku yang tak luput dari salah dan penuh kekurangan pula.
Kekuranganku semangat hidupku,
mungkin itu yang hingga kini menjadi pegangan (semboyan) hidupku hingga kini.
Tidak bermaksud menggurui dan tidak merasa paling bisa mengatasi persoalan yang
mendera hidup ini. Namun setidaknya setiap kekurangan yang kita miliki sudah
barang tentu juga menjadi kekuatan dan kelebihan kita. Tetap semangat dan terus
bersyukur dalam menjalani tatanan kehidupan ini. Selalu ada harapan dari setiap
berjalannya waktu dengan karya karsa atau tenaga. Catatan kecil ini merupakan
cerita saya pribadi dan nyata adanya.
Petrus Kanisius

terima kasih ya bro, mksh sudah berkunjung
ReplyDelete