![]() |
| Foto Ilustrasi : Deforestasi yang terjadi. Foto dok.Rhett A Butler/ mongabay.co.id |
Hutan dan aku semestinya satu itu yang aku tahu
Kini andai boleh lagi menyatu
Peduli itu kata yang ku tahu, tapi aku hanya benalu
Aku benalu, benalu yang selalu menjadi parasit dari waktu ke
waktu
Lihatlah, hutan yang tak lagi mampu kuat menopang
Kering kerontang yang tak jarang menjadi bomerang
Gaduh mengaduh tak ubah seperti perang
Lihatlah hutan diserang, diterjang dan semakin sulit
diperjuang
Hutan dan aku semestinya satu, bukan rebah tak berdaya
tetapi kokoh berdiri
Kita sebagai bagian dari satu kesatuan hutan selalu punya
mimpi
Menjadi hutan berarti menjadi payung dan penopang yang harus
lestari
Hingga kini yang ku tahu dari dulu adalah kata untuk selalu
harmoni
Hutan, kita dan satwa, itu yang katanya harus satu
kesatuan sepanjang waktu
Mengapa hingga kini tak sedikit yang megeluh dan mengadu ?
Mengadu tentang riuh hutan dan satwa yang menangis
sendu
Ruang rindu hutan yang kokoh tersisa tak lagi mampu
Hutan dan aku sama-sama terjepit dalam sunyi sepi tanpa
banyak yang peduli
Congkak mulut dan tangan-tangan tak terlihat berteriak,
bersorak selalu mengintai
Nada-nada bijaksana berganti fatamorgana yang mengintai
Menanti pongah serapah atau hijau kembali, hutan dan kita
sama tidak sedang baik-baik saja kini
Tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana
Petrus Kanisius

Comments
Post a Comment