![]() |
| Hutan. Foto : Petrus Kanisius |
Aku meminta
izin agar kiranya boleh tersenyum untuk-Mu
Itu aku
(hutan) tentang tajuk-tajukku rimbun memberi tanda
Bersatu harmoni
itu yang ku mau, bukan (ter/di) cabut
Bukan pula tercerabut merenggut tak kentara
Pelangi
selepas hujan mengintip rebah tak berdayaku
Tanda kata,
nyata bicara berlawanan kata
nasibku kini
yang tak kunjung membaik
Gumamku
tentang sakit penyakitku
Rebah tak
berdaya bicara dalam dilema nada tak terlihat
Rinai rintik
seolah menjadi hamoni semu
karena tak
sanggup menahan rebah tak berdayaku
Rebahku
sebagai penanda tak lagi mampu
Setiap
rintik menjadi biang sang badai datang, inilah yang terlihat di pelopak mata
Semua
mengata-ngataiku sebagai bencana dan tak bersahabat dan lain sebagainya
Apa salah
dan dosaku hingga aku dikatai sebagai biang bencana dan sebagainya itu
Tanda nyata
bicara tentang nasibmu, semua tertuju padamu
Nasibku yang
tak lagi sama seperti dulu kian menanti asa bagi semua
Bingkai kata
dan nada harap padaku pada-Mu
Entahlah,
salah atau benarnya aku pun tak tahu
Umur dan
nasibku yang masih tersisa ini akankah nanti kiranya boleh bertahan atau kalian
rampas hingga aku pun tinggal dongeng manis saja?

Comments
Post a Comment